Pojok Guru


IT | Januari 2010 |
Tahun Baru Islam 1431 H

Tahun Baru Islam adalah salah satu hari yang penting dalam Islam. Meskipun tidaklah sepenting hari raya Iedul Fitri atau Iedul Adha, atau hari yang tidak ada ibadah khusus di dalamnya, Tahun Baru Islam tetaplah penting. Dengan penetapan jatuhnya 1 Muharram, selanjutnya berbagai ibadah lainnya dapat ditentukan seperti puasa Asyura (10 Muharram), puasa 3 hari di pertengahan bulan Islam, maupun waktu untuk melakukan pengamatan hilal guna menentukan datangnya bulan Shafar dan seterusnya. Bagi sebagian ummat, tahun baru Islam juga digunakan sebagai momentum untuk melakukan evaluasi/muhasabah.

Seperti telah diketahui, di Indonesia tanggal 1 Dzulhijjah 1430 H jatuh pada hari Rabu, 18 Nopember 2009. Ini juga hampir serentak di berbagai belahan dunia termasuk Saudi Arabia, sehingga terjadi keseragaman hari raya Iedul Adha 10 Dzulhijjah 1430 H yaitu hari Jumat 27 Nopember 2009.

Dengan demikian, tanggal 29 Dzulhijjah 1430 H jatuh pada hari Rabu, 16 Desember 2009. Pada hari Rabu sore tersebut jika ingin dilakukan pengamatan hilal di Indonesia, hasilnya Insya Allah negatif. Hal ini disebabkan, konjungsi matahari-bulan-bumi secara geosentrik terjadi setelah matahari terbenam, tepatnya pada pukul 19:02 WIB. Demikian pula pada hari Rabu tersebut, bulan terbenam lebih awal daripada matahari. Dengan demikian, hari Kamis 17 Desember 2009 dihitung sebagai 30 Dzulhijjah 1430 H. Dan akhirnya, Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H Insya Allah bertepatan pada hari Jumat, 18 Desember 2009.

Penetapan ini juga bersesuaian dengan konversi kalender Masehi-Islam, dimana kalender Islam ditentukan secara aritmetika. Silakan lihat tulisan penulis sebelumnya tentang kalender Islam aritmetika di alamat

http://www.eramuslim.com/syariah/ilmu-hisab/kalender-islam-aritmetika.htm

Silakan download file MS Excel untuk konversi kalender Islam-Masehi di alamat

http://www.4shared.com/file/121097662/bd2584a/konversi-kalender-islam-masehi.html

Dengan menggunakan file MS Excel tersebut, jika dimasukkan tanggal Masehi 18 bulan 12 tahun 2009, diperoleh hari Jumat tanggal Islam 1 bulan 1 tahun 1431. Demikian pula sebaliknya.

Rata-rata banyaknya hari dalam 1 tahun Islam

Tanggal 18 Desember 2009 M pukul 0 UT/GMT bersesuaian dengan Julian Day 2455183,5. Sementara itu tanggal 1 Muharram 1 H menurut mayoritas pendapat ahli, bertepatan dengan dengan tanggal 16 Juli 622 M yang bersesuaian dengan Julian Day 1948439,5 (untuk pukul 0 UT). Selisih kedua JD adalah 2455183,5 - 1948439,5 = 506744 hari. Angka ini sama dengan banyaknya hari selama 1430 tahun Hijriyah (dari 1 H hingga 1431 H). Jadi, rata-rata banyaknya hari dalam satu tahun Islam adalah 506744 dibagi 1430 sama dengan 354,366434 hari. Jika angka ini dibagi dengan 12 (bulan), hasilnya adalah 29,530536 hari. Angka ini hampir sama dengan lama satu bulan sinodik, yaitu 29,530589 hari. Selisihnya hanya 0,000053 hari atau sekitar 4,6 detik setiap bulan.

Namun demikian, 4,6 detik setiap bulan ini jika dihitung selama 12 bulan kali 1430 tahun, hasilnya hampir mendekati 1 hari. Tepatnya, 29,530589 kali 12 kali 1430 sama dengan 506744,90724 atau berselisih sekitar 0,9 hari dari angka 506744 hari. Angka 0,9 hari lebih tepat dibulatkan ke 1 hari daripada 0 hari. Bagaimana cara mengatasi masalah ini?

Konjungsi (new moon) geosentrik Muharram 1 H

Perlu diketahui, konjungsi geosentrik untuk datangnya bulan Muharram 1 H jatuh pada hari Rabu tanggal 14 Juli 622 M pukul 05:22 UT = 12:22 WIB. Hasil ini diperoleh dengan menggunakan algoritma Meeus, seperti yang sudah penulis jelaskan sebelumnya pada tulisan FASE-FASE BULAN. Sementara itu menurut perhitungan NASA, hasilnya adalah pukul 05:26 UT = 12:26 WIB atau berselisih hanya 4 menit dari algoritma Meeus. Fase bulan tersebut menurut NASA bisa dilihat di

http://eclipse.gsfc.nasa.gov/phase/phases0601.html

Sebagai perbandingan pula, menurut software Accurate Times, konjungsi tersebut terjadi pukul 05:36 UT = 12:36 UT atau berselisih 14 menit dari algoritma Meeus. Perbedaan ini disebabkan perbedaan Delta_T, dimana Accurate Times menggunakan nilai Delta_T untuk tahun 622 M sekitar 3700 detik atau 1 jam 2 menit. Sementara itu algoritma Meeus menggunakan nilai Delta_T sekitar 4500 detik atau 1 jam 15 menit. Jika Delta_T 1 jam 15 menit digunakan oleh Accurate Times, konjungsi terjadi pukul 05:22 UT = 12:22 WIB, atau sama dengan algoritma Meeus (dalam menit terdekat).

Perbandingan lain, jika digunakan algoritma DE406 seperti yang dihitung oleh S. L. Moshier ( www.moshier.net ), konjungsi terjadi pada JDE 1948437,78003 yang bersesuaian dengan 14 Juli 622 pukul 06:43:15 TDT atau pukul 05:28 UT = 12:28 WIB, jika digunakan nilai Delta_T sebesar 1 jam 15 menit. Hasil ini hanya berselisih 6 menit dari algoritma Meeus.

Sebagai kesimpulan, fase bulan baru atau konjungsi geosentrik untuk datangnya Muharram 1 H jatuh pada tanggal 14 Juli 622 M antara pukul 05:22 hingga 05:28 UT. Jika diambil nilai tengahnya, hasilnya hari Rabu 14 Juli 622 M pukul 05:25 UT atau 12:25 WIB.

1 Muharram 1 H

Baik di Makkah atau wilayah Indonesia, pada hari Rabu maghrib, konjungsi sudah terjadi dan bulan terbenam setelah matahari terbenam. Menurut hisab dengan kriteria wujudul hilal, hari Kamis 15 Juli 622 sudah masuk tanggal 1 Muharram 1 H. Akan tetapi jika digunakan kriteria imkanur rukyat, saat itu ketinggian bulan tidak memungkinkan untuk dilihat. Di Makkah ketinggian bulan toposentrik sekitar 2 derajat, sedangkan di Jakarta sekitar 1 derajat. Jadi menurut kriteria imkanur rukyat, 1 Muharram 1 H jatuh pada Jumat 16 Juli 622 M, seperti yang banyak diikuti oleh para ahli.

Namun demikian, jika tanggal 15 Juli 622 yang dijadikan patokan 1 Muharram 1 H, maka banyaknya selisih hari dengan 1 Muharram 1431 H (18 Desember 2009) adalah 506745 hari, yang dekat dengan 1430 kali 12 kali satu bulan sinodik (sama dengan 506744,9 hari).

Akan tetapi, perlu diingat bahwa lama satu bulan sinodik yang sebesar 29,530589 hari (29 hari 12 jam 44 menit 3 detik) adalah rata-rata (mean) dengan patokan (epoch) 1 Januari 2000 M. Dalam prakteknya, jarak antara satu new moon dengan new moon berikutnya sangat bervariasi, terkadang bisa mencapai 29 hari 19 jam atau bahkan hanya sekitar 29 hari 6 jam. Karena itu, sangat mungkin jika patokan yang dipakai bukan tanggal 1 Januari 2000 M, pengambilan lama satu bulan sinodik juga akan berubah. Jadi, hal ini tidak menjamin bahwa 1 Muharram 1 H = 15 Juli 622 hanya karena selisihnya dengan 1 Muharram 1431 H lebih dekat dengan angka kelipatan dari satu bulan sinodik.

Penulis secara pribadi berpendapat bahwa 1 Muharram 1 H jatuh pada hari Jumat 16 Juli 622 M, seperti yang juga penulis jadikan sebagai patokan dalam konversi kalender Islam-Masehi di atas.

15 dan 16 Juli 622 M

Ada satu fenomena menarik yang terjadi setiap tanggal 15 atau 16 Juli, yaitu matahari tepat berada di atas Ka'bah pada sekitar pukul 12:27 waktu setempat. Silakan lihat tulisan penulis sebelumnya tentang Hari Meluruskan Arah Kiblat.

http://www.eramuslim.com/syariah/ilmu-hisab/hari-meluruskan-arah-kiblat.htm

Untuk kurun waktu saat itu di tahun 622 M, matahari tepat berada di atas Ka'bah sekitar pukul 12:24 waktu setempat. Perbedaan waktu sekitar tiga menit dari rata-rata waktu sekarang disebabkan oleh perbedaan Equation of Time (perata waktu). Tanggal 15 Juli 622 M, matahari berada di ketinggian tertinggi dengan altitude 89 derajat 59 menit busur 29 detik busur pada pukul 12:23:57 waktu lokal. Sedangkan pada tanggal 16 Juli 622 M, altitude tertingginya adalah 89:50:10 derajat pada pukul 12:24:03 waktu lokal.

Menariknya, pada tahun 622 M tersebut, tanggal pada saat matahari ada di atas Ka'bah adalah juga 15 dan 16 Juli, sama seperti tahun-tahun sekarang ini. Padahal tahun 622 M berstatus kalender Julian, bukan Gregorian. Bandingkan dengan tahun 1582 M, tahun dimana terjadi pergantian dari kalender Julian ke kalender Gregorian yang digunakan hingga saat ini. Pada tahun 1582 M, matahari berada di atas Ka'bah pada tanggal 6 Juli 1582 M pukul 12:25:45 dengan altitude 89:55:40 derajat, yang berarti maju sekitar 9 atau 10 hari.

DR. Rinto Anugraha [www.eramuslim.com]


Copyright © 2009 www.smp2madiun.sch.id